Selasa, 21 Desember 2010

RESENSI
FILSAFAT ILMU
( kontemplasi Filosofis tentang Seluk – Beluk Sumber dan Tujuan Ilmu Pengetahuan )
Judul              : Filsafat Ilmu ( kontemplasi Filosofis tentang Seluk –  Beluk Sumber dan Tujuan Ilmu Pengetahuan )
Penulis         : Drs. Beni Saebani, M.Si
Penerbit       : Pustaka Setia, Bandung
Cetakan       : I, Februari 2009
Tebal            : 264 Halaman
Peresensi     : Moh. Zam Zam H.F.C.*
*) Mahasiswa Pendidikan Matematika IAIN Sunan Ampel Surabaya
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS TARBIYAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2010
KATA PENGANTAR


            Belajar memahami hakikat keberadaan segala sesuatu adalah awal dari berfikir filosofis. Jika tidak pernah mengalami perenungan tentang hakikat diri, tentu kehidupan tidak akan bernilai. Mencintai eksistensi hidup adalah bagian terpenting dari upaya mensyukuri nikmat Allah SWT.
            Ilmu pengetahuan mempunyai hakikat tersendiri, namun ilmu berbeda dengan pengetahuan, dalam bahasa inggris ilmu diartikan science, sedangakan pengetahuan diartikan knowledge. Ini berarti dalam konteks tertentu kata ilmu dan pengetahuan dapat digabungkan menjadi ilmu pengetahuan.
            Filsafat merupakan kebebasan berfikir manusia terhadap sesuatu tanpa batas dengan mengacu pada hokum keraguan atas segala hal. Seorang yang berfilsafat dapat diumpamakan sebagai seorang yang berpijak di muka bumi sedang tengadah ke bintang-bintang. Dia ingin mengetahui hakikat dirinya dalam kesemestaan galaksi. Atau seorang, yang berdiri di puncak tinggi, memandang ke ngarai dan lembah di bawahnya. Dia ingin menyimak kehadirannya dengan kesemestaan yang ditatapnya.
            Resensi dari buku “Filsafat Ilmu ( kontemplasi Filosofis tentang Seluk – Beluk Sumber dan Tujuan Ilmu Pengetahuan )” merupakan salah satu resensi yang menarik untuk dibaca. Membaca satu kali akan terasa menikmati ayunan filosofika, kedua kali semakin terayun bagai sirkuit cinta. Mudah-mudahan resensi ini memberikan kenikmatan estetik yang tiada terhingga. Wassalam..

Surabaya, 20 Desember 2010


Moh. Zam Zam Hasan Fahri Catim



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGENTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
            1.1
            1.2
BAB II PEMBAHASAN
            2.1
            2.2
            2.3
BAB III PENUTUP
            3.1 Analisis Kritis
            3.2 Saran















BAB I
PENDAHULUAN

            Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu, sedangaka filsafat dimulai dengan kedua-duanya. Filsafat selalu menjawab-jawaban, tetapi jawaban yang ditemukan tidak pernah abadi. Oleh karena itu, filsafat tidak pernah selesai dan tidak pernah sampai pada akhir sebuah masalah.
            Filsafat mempunyai cabang filsafat yang dinamakan filsafat ilmu. Dalam buku ini filsafat ilmu diartikan sebagai filsafat pengetahuan, karena ilmu merupakan akumulasi pengetahuan yang memproduksi teori sebagai hokum tentang segala pengetahuan yang telah terakumulasi secara spesifik. Dengan begitu, satu atau banyak pengetahuan tentang sesuatu belum tentu telah menjadi ilmu. Jika pengetahuan itu telah terakumulasi dan teruji, barulah disebut dengan ilmu. Oleh karena itu, ilmu bersifat obyektif dan realistic, yang telah terukur validitasnya.
            Filsafat ilmu, kata lain dari epistemologi, berasal dari bahasa Lati, apisteme yang berarti knowledge, yaitu pengetahuan ; logos berarti theory. Jadi, epistemology berarti “ teori pengetahuan ” atau teori tentang metode, cara dan dasar dari ilmu pengetahuan, atau studi tentang hakikat tertinggi, kebenaran, dan batasan ilmu manusia.
            Epistemologi berbeda dengan logika. Jika logika merupakan sains formal ( formal science ) yang berkenaan dengan prinsip-prinsip penalaran yang shahih, epistemologi adalah sains filosofis ( philosophical science ) tentang asal-usul pengetahuan dan kebenaran.
            Filsafat ilmu atau epistemologi adalah analisis filosofis terhadap sumber-sumber pengetahuan. Dari mana dan bagaimana pengetahuan diperoleh, menjadi kajian epistemologi, sebagai contoh bahwa semua pengetahuan berasal dari Tuhan ( innama al ‘ilm min ‘indillah, la ‘lmalana illa ma ‘alamtana ), artinya Tuhan sebagai sumber pengetahuan.
BAB II
PEMBAHASAN
Filsafat Ilmu
( Kontemplasi Filosofis tentang Seluk – Beluk Sumber dan Tujuan Ilmu Pengetahuan )

            Dalam buku berjudul “Filsafat Ilmu ( kontemplasi Filosofis tentang Seluk – Beluk Sumber dan Tujuan Ilmu Pengetahuan )” apa yang disebut ilmu pengetahuan sebenarnya tidak lain adalah kumpulan pengelaman dan pengetahuan dari sejumlah orang yang dipadukan secara harmonik dalam suatu bangunan yang teratur. Orang dapat mengambil manfaat sebesar-besarnya dari ilmu pengetahuan, karena ilmu pengetahuan disusun dari pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan yang sudah diuji kebenarannya.
            Selain itu, objek dari filsafat ilmu pun dijelaskan di dalam buku ini, pengetahuan merupakan objek utama filsafat ilmu, dan atau ilmulah yang menjadi objek filsafat ilmu. Jika terdapat pengetahuan, akan dipertanyakan dari mana asal pengetahuan tersebut, bagaimana memperolehnya. Demikian pula, apabila yang dihadapi ilmu, pertanyaan pun sama. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan merupakan objek kajian filsafat ilmu/epistemologi. Pengetahuan yang salah satunya berasal dari adanya gagasan dalam pikiran manusia. Ini sama halnya kita menyatakan objek kajian filsafat ilmu adalah gagasan manusia, karena asal muasal pengetahuan salah satunya dari gagasan itu sendiri. Dalam bahasan lain gagasan disebut juga ide, dan ide merupakan potensi manusia dalam mempertahankan hidup.
            Sebagai ilustrasi tentang gagasan atau ide, masjid dalam batasan pertama, yaitu semua bumi atau tanah adalah masjid, kecuali kuburan dan tempat buang hajat. Semua orang sholat dimana saja, yang penting di atas tanah, bukan di kuburan atau tempat buang hajat. Akan tetapi, ada binatang lewat di depan ornag shalat, malah buang hajat di tempat sujudnya. Orang pun berpikir bahwa shalat di sembarang tempat yang tak berdindingakan terganggu kekhusyukannya oleh binatang atau apa saja yang melintas di depannya. Oleh karena itu, tempat shalat pun dikelilingi dinding sehingga bagi yang shalat tidak terganggu oleh apa pu dan siapa pun, dan tidak ada yang sembarang melintas di depan orang yang sedang shalat. Akan tetapi, tiba-tiba turun hujan lebat, udara yang sangat panas, dan debu yang tertiup angina yang semuanya mengganggu kekhusyukan shalat. Orang pun berpikir lagi, kalau begitu tempat shalat harus beratap agar tidak kehujanan. Dibangunlah tempat shalat yang berdinding dan beratap, tetapi tidak memiliki pintu, sehingga seekor anjing bias masuk dan buang air kecil di pojok bangunan. Orang pun berpikir kembali bahwa tempat shalat harus berdinding, beratap, memiliki pintu dan jendela, bahkan bila perlu dapat dikunci supaya lebih terjamin keamanannya.
            Gagasan dalam pikiran manusia yang membentuk penalaran, merupakan alat mencari solusi bagi masalah yang dihadapi setiap hari atau mungkin setiap detak jantung manusia.
            Di dalam buku ini menjelaskan beberapa metode yang digunakan dalam filsafat, misalnya menurut Ahmad Tafsir yang menyatakan bahwa metode mempelajari filsafat ada tiga, yaitu 1). Metode Sistematis, 2). Metode Historis, 3). Metode Kritis.
            Tiga metode itu sangat sederhana jika mau dipraktikkan. Belajar dengan metode sistematis, dimulai dengan banyak membaca buku filsafat , memahami pengertiannya, objek yang dikaji, sistematika filsafat, makna ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Sekadar menghafal istilah-istilah yang disajikan filsafat dan memahami berbagai batasannya secara kognitif sudah cukup baik.
            Belajar dengan metode historis adalah mempelajari sejarah filsafat, seluk beluk, dan kelahirannya. Filsafat diYunani dan Barat, filsafat di Dunia dan dikalangan filosof Muslim, filsafat Kristiani dan semua yang berbau sejarah dikumpulkan dipelajari secara mendalam jika mampu dianalisis.
Barulah untuk metode yang ketiga, yakni mempelajari filsafat dengan metode kritis. Ini untuk tinggkat yang lebih tinggi. Yang dapat dilakukan “ untuk lebih hebat ” dua metode di atas sudah dilewati. Bagaimana mau mengkritisi, jika sejarah filsafat tidak tahu, atau pengertian ontology saja belum hafal. Metode kritis sudah mulai melibatkan penalaran yang kontemplatif dan radikal, bahkan pemikiran filosof bukan sekadar dipahami, melainkan dikritisi. Inilah gambaran metode-metode filsafat menurut buku ini,
            Selain itu, di dalam buku juga terdapat metode mempelajari filsafat ilmu, yakni dilakukan dengan 4 pendekatan; 1). Pendekatan konsepsional, 2). Pendekatan biografikal, 3). Pendekatan logika dan dialektika, 4). Pendekatan kritis. Penjelasan tentang semua pendekatan tersebut ada dalam buku ini.
            Metode merupakan suatu cara untuk pencarian sumber, seluk beluk pengetahuan dan kebenarannya. Jadi, banyak sekali metode yang digunakan di dalam filsafat untuk menuju sebuah kebenaran. Selemah apa pun metode yang digunakan, atau belum layak sebagai metode filsafat, itulah cara filsafat, yang tidak akan puas dengan apa yang sudah ada. Yang akan terus memunculkan metode-metode baru untuk mencapai kebenaran.
            Di dalam bab buku ini, ada bab yang menjelaskan tentang kedudukan filsafat ilmu itu sendiri. Kedudukan filsafat ilmu lebih terhormat daripada ilmu pengetahuan, karena segala hal yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan, bagi filsafat ilmu hanyalah langkah awal dari berfikir filosofis. Akan tetapi, apa yang dimiliki filsafat untukl menjawab keterbatasan ilmu pengetahuan, tidak setetes pun dikuasai ilmu, karena tugas filsafat ilmu sudah demikian. Filsafat ilmu akan menggali hakikat sumber-sumber pengetahuan yang diperoleh manusia, baik yang diperoleh panca indera, pengelaman, observasi, atau berbagai percobaan di laboratorium. Dengan demikian, hasil kerja ilmu pengetahuan akan lebih mengideologis, bermanfaat bagi kehidupan manusia dan kemanusiaannya.
            Di dalam bab selanjutnya, ada sistematika filsafat ilmu yang mana nantinya akan dijadikan sebuah pemahaman tersendiri dalam memahami filsafat ilmu. Sisematika filsafat ilmu bermula dari logikaa yang menghubungkan pengetahuan rasio/akal dengan pengetahuan inderawi. Peranan logika ini sangat penting terutama dalam menghubungkan pengalaman seseorang kepada orang lain yang “ tidak memiliki ” pengalaman. Apabila logika tidak disertai rasio, tentu penerjemahan pengalaman tidak akan sempurna. Bias jadi, pengalaman yang dimaksud justru tidak logis dan orang akan menolaknya sebagai sebuah pengalaman. Hokum untuk berfikir sendiri diatur secara normative oleh logika. Urutan cara berfikir logis dapat dilakukan secara deduktif, induktif, dan dialektis.
            Berhubungan dengan proses rasionalisasi terhadap pengetahuan yang bersumber dari pengalaman inderawi, baik yang telah dinyatakan ilmiah maupun yang tidak ilmiah, dengan memanfaatkan logika, segala sesuatu yang telah diketahui secara empiric maupun karena atas dasar keyakinan lebih mudah diterima oleh akal sehat.
            Bab yang selanjutnya dibahas dalam buku ini mengenai problematika filsafat ilmu. Problematika filsafat ilmu yang pertama terletak pada penerapan logika. Jika logikanya tumpul, belajar filsafat lebih cepat bingung daripada mengerti. berbeda dengan yang memiliki ketajaman logika, belajar filsafat ilmu terasa nikmat dan mengasykkan, bias terbahak-bahak menertawakan kebodohan logika diri kita sendiri. Problem kedua dalam filsafat ilmu adalah rasio karena rasio terus-menerus membutuhkan pengembangan dengan berbagai pelatihan berfikirt. Apabila rasio kurang dirangsang oleh masalah-masalah kehidupan, ia akan tunduk pada kebiasaan-kebiasaan. Nah, apakah maksud dari problematika yang kedua ini! Mungkin anda akan mengerti jika membaca buku ini.
            Di dalam rasio pun terdapat problem rasio itu sendiri. Pertama, pencemaran dari rasio itu sendiri. Kedua, kebebasannya yang terjebak oleh potensi absolutnya yang meyakini bahwa semua pengetahuan berasal dari rasio. Rasio memiliki masalah dengan pengalaman. Jika kinerja rasio tidak dibantu oleh pengalaman, biasanya akan mengalami kesulitan dalam menarik kesimpulan yang llmiah.
            Dikalangan kaum rasionalis, hanya akal yang menjadi sumber pengetahuan, yang lainnya hanya memperkuat atau membantu memberi bahan-bahan pemikiran bagi akal. Di dalam bab selanjutnya, akan dibeberkan tentang rasio atau akal yang ada dalam daya berfikir manusia, yakni ada 3 tingkatan; 1).Al-‘Aql Al-Hayulani, yaitu akal potensial atau material intellect, 2). Al-‘Aql bi Al-Fi’il, yaitu akal actual atau actual intellect, 3). Al-‘Aql Al-Mustafad, atau acquired intellect. Apakah maksud dari ketiga tingkatan itu, mungkin akan lebih jelasnya jika memahaminya dengan membaca buku ini. Karena sekali membaca akan mendatangkan berbagai pertanyaan yang sangat mengena di pikiran kita.
            Dikalangan kaum empirisme, pengelaman merupakan sumber pengetahuan bagi manusia, rasio tidak memiliki kemampuan untuk memberikan gambaran tertentu. Kalaupun menggambarkan sedemikian rupa, tanpa pengalaman, hanyalah khayalan belaka. Empirisme dan rasionalisme berkembang pesat, hingga melahirkan positivism. Menurut positivism, pengetahuan kita tidak boleh melebihi fakta-fakta. Dengan demikian, ilmu pengetahuan empiris menjadi contoh istimewa dalam bidang pengetahuan. Positivism menolak filsafat metafisika, karena semuanya kebohongan. Yang termasuk ilmu pengetahuan hanyalah fakta-fakta yang termasuk hubungan diantara fakta-fakta yang ada. Positivism tidak seperti empirisme yang menerima pengalaman batiniah. Bagi positivism, hanya pengalaman indera yang benar-benar sebagai sumber pengatahuan yang factual, sedangakan yang lainnya tidak berarti apa-apa.
            Munculnya rasionalisme dan empirisme menjadi indikator untuk memunculkan pemecahan masalah antara pertentangan itu. Kritisisem mencoba membangaun hubungan antara rasio dan pengalaman menjadi harmonis, sehingga pengetahuan yang benar bukan hanya apriorinya, tetapi juga aposteriori, bukan hanya pada rasio, melainkan juga pada hasil inderawi.
            Bab berikutnya dari buku ini yakni, kriteria kebenaran epistemologi. Ada 14 kriteria kebenaran dalam epistemologi, yaitu ; kebenaran absolut, kebenaran relative, kebenaran spekulatif, kebenaran korespondensi, kebenaran pragmatis, kebenaran normative, kebenaran religious, kebenaran filosofis, kebenaran estetis, kebenaran ilmiah, kebenaran teologis, kebenaran idealogis, kebenaran konstitusional, kebenaran logis. Dari berbagai sisi, orang yang mempunyai banyak pengalaman umumnya dapat memecahkan masalah lebih mudah daripada orang yang sedikit pengalamannya. Oleh karena itu, perbanyaklah membaca, karena membaca merupakan salah satu sarana menambah pengalaman atau informasi meskipun secara tak langsung.
            Bab selanjutnya dalam buku mengenai ilmu sebagai aktivitas penelitian dan metode ilmiah. Hal ini sudah menjadi peranan tersendiri bagi ilmu. Ilmu yang merupakan akumulasi dai pengetahuan yang dirangkai secara sistematik, yang sistematik itu sendiri berkaitan erat dengan penelitian dan metode ilmiah. Dengan demikian, ilmu digunakan sebagai tujuan utama dari adanya penelitian dan metode ilmiah. Langkah-langkahnya pun terperinci di dalam buku ini.
            Dalam pembahasan bab berikutnya yaitu manfaat ilmu bagi kehidupan manusia. Secara garis besar, ilmu sebagai penunjuk ke jalan yang lebih baik dalam kehidupan manusia di segala sector dan aspek; dan ilmu sebagai alat untuk mempermudah jalan hidup manusia dalam menghadapi masalah.
            Dengan demikian, buku setebal 264 halaman ini sangatlah cocok sebagai sumber referensi bagi orang – orang awam yang ingin belajar filsafat ilmu.. karena ruang lingkup dari buku ini sangatlah mencakup apa-apa yang ada dalam filsafat ilmu itu sendiri.

Kelebihan
            Uraian – uraian yang dikemukakan secara panjang lebar dalam buku “FILSAFAT ILMU ( kontemplasi Filosofis tentang Seluk – Beluk Sumber dan Tujuan Ilmu Pengetahuan )” memotivasi kita semua untuk lebih banyak berfikir logis dan sistematik. Untuk belajar itu, diperlukan pemahaman mendalam mengenai filsafat ilmu atau ( epistemologi ). Karena filsafat ilmulah orang akan mengetahui hokum-hukum berfikir normatif, sebagaimana pemikiran ulama terdahulu yang pandai meletakkan pemahamannya secara sistematis. Meletakkan mana yang utama dan mana yang sebagai pelengkap.
            Filsafat ilmu sangat penting untuk dipelajari, dipahami, dan diterapkan dalam berfikir, dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pengembangan teknologi. Penerapan dapat dilihat filsafat ilmu atau epistemologi dalam penelitian, dalam membuat karya ilmiah, semacam skripsi, tesis dan disertasi. Oleh karena itu, filsafat ilmu sangat mendukung para ulama, cendikiawan, para peneliti, dosen dan mahasiswa dalam berfikir logis, sistematis, dan dialektis.
            Di dalam buku ini terdapat pembahasan mengenai aliran-aliran dalam filsafat yang saling berbeda mengenai sumber pengetahuan. Menurut kaum rasionalis akal merupakan sumber pengetahuan, namun menurut empirisme pengelaman sebagai sumber pengetahuan, inilah karakteristik dari filsafat yang selalu membuat kita bingung namun kebingungan tersebut menjadikan filsafat sebagai sesuatu yang tanpa batas dan tak ada akhirnya.
            Buku ini sangat berguna bagi kita semua, jika kita memandang karya orang itu sangat berharga dan berarti untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan filsafat, mengapa kita tidak memaknai buku ini sebagai bagian yang sangat penting untuk dibaca , disimak dan diamalkan dalam pemikiran kita sebagai insan kampus.
           
Kekurangan
Di dalam buku Drs. Beni Saebani, M.Si ini dalam pemilihan kosakata dalam bahasanya sudah cukup baik, namun ada beberapa kosakata yang masih sukar untuk dimengerti oleh orang awam/kalangan insan kampus. Dalam buku ini perlu adanya glosarium atau kumpulan kosakata-kosakata ilmiah beserta dengan artinya agar mempermudah dalam pengertian sebuah kalimat.
Dalam pembahasan asal-usul filsafat, perlu adanya penjelasan, darimana filsafat ilmu itu? kapan mulai munculnya? bagaimana pengaruh filsafat ilmu? Dan lain-lain.
Untuk lebih mengetahui seberapa besar pemahaman kita akan filsafat ilmu, perlunya sebuah esai atau pertanyaan – pertanyaan pada tiap bab. Jadi ini untuk menguji seberapa besar pemahaman kita tentang filsafat ilmu, serta sebuah soal yang melatih logika kita dalam berfikir secara normatif.
Demikianlah hal yang mungkin ada dibenak hatiku mengenai buku “FILSAFAT ILMU ( kontemplasi Filosofis tentang Seluk – Beluk Sumber dan Tujuan Ilmu Pengetahuan )”. Terima kasih














BAB III PENUTUP
ANALISIS KRITIS

Buku yang berjudul “FILSAFAT ILMU ( kontemplasi Filosofis tentang Seluk – Beluk Sumber dan Tujuan Ilmu Pengetahuan )” tulisan Drs. Beni Saebani, M.Si ini memang cukup mencakup tentang filsafat ilmu secara umum, namu disini masih banyak kekurangan dan bab-bab yang seharusnya tidak diperlukan. Misalnya pembahasan tentang filsafat eksistensi, yang mungkin jauh dari filsafat ilmu yang akan mempersulit pemahaman kita tentang filsafat ilmu itu sendiri.
Selanjutnya, mengenai peranan atau manfaat dari filsafat ilmu itu pun masih diluar pembahasan dalam buku ini. Seharusnya, Bab VII MANFAAT ILMU BAGI KEHIDUPAN MANUSIA dirubah menjadi ” manfaat filsafat ilmu bagi kehidupan manusia ” pembahasannya pun harus mengenai ruang lingkup bab tersebut.
            Dalam daftar isi pun, saya mempunyai kejanggalan tentang kurangnya bab tentang perkembangan historis tentang filsafat ilmu itu sendiri atau asal-usul filsafat ilmu itu. Kalau pun kekurangan itu disengaja oleh penulis itu adalah hal yang sangat fatal. Karena dalam metode pembelajar filsafat telah dijelaskan bahwa ada 3 metode yang harus ada dalam filsafat yaitu, metode sistematis, metode historis, metode kritis. Metode sistematis dan metode historis berkaitan erat dengan metode kritis. Bagaimanakah mengkritisi sebuah filsafat tanpa diketahui sejarah dari filsafat itu sendiri? Apakah mungkin kita hanya mengira-ngira yang nantinya akan menjadi pembodohan dalam perkembangan filsafat.
           


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar